Bangunan bersejarah banyak berdiri di Pandeglang
Berita Terkait
9 Monumen terkenal dunia yang diliputi misteri
9 Monumen terkenal dunia yang diliputi misteri
7 Tempat paling misterius di dunia
Goa Jepang pariwisata andalan kota Lhokseumawe
- Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten memiliki cukup banyak bangunan bersejarah yang sampai saat ini masih berdiri dan dipertahankan keasliannya.
"Bangunan situs sejarah cukup banyak, di antaranya gedung eks Pendopo Kecamatan Saketi dan eks Kewedanaan Menes," kata Kepala Seksi Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pandeglang Imron Mulyana di Pandeglang, seperti dikutip dari Antara, Jumat (30/5).
Dia menyatakan, bangunan yang memiliki nilai sejarah tersebut terus dipelihara dan kalaupun ada pemugaran tidak menghilangkan bentuk aslinya.
Imron menyatakan, untuk gedung eks Pendopo Kecamatan Saketi memiliki keunikan tersendiri, di antaranya pada bagian atap menggunakan limasan.
Bangunan yang beralamat di Jalan Raya Labuan, Kelurahan Purwasari, Kecamatan Saketi ini, kata dia, sekarang memerlukan perbaikan pada beberapa bagian yang telah mengalami kerusakan.
"Ada beberapa bagian yang mengalami kerusakan, dan perlu mendapat perbaikan. Kami berharap ada bantuan dari pemerintah pusat untuk merenovasi bangunan itu," katanya.
Bangunan yang memiliki luas 12 M x 18 M persegi itu, kata dia, bisa menjadi salah satu objek wisata religius. Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung dapat menempuh jalur darat dengan jarak di Kota Serang, Ibu Kota Provinsi Banten hanya 42 KM.
Sebagai bangunan yang memiliki gaya yang khas pada masanya, bangunan ini menjadi penting artinya bagi ilmu pengetahuan.
"Tampaknya bentuk atap limasan pernah menjadi model arsitektur atap rumah pada sekitar tahun 1817-an, hal ini mungkin disesuaikan dengan keadaan iklim di Indonesia," katanya.
Sedangkan bangunan eks gedung Kewedanaan Menes, kata dia, terletak di Jalan Alun-alun Timur Menes, Kelurahan Purwaraja, Kecamatan Menes dan saat ini dijadikan sebagai Kantor Kecamatan Menes.
Bangunan ini merupakan salah satu bangunan tua yang masih tersisa dari beberapa bangunan kolonial yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1848.
Arsitektur bangunan bekas Kewedanaan Menes ini merupakan gabungan antara arsitektur lokal berupa bangunan pendopo dan arsitektur kolonial yang diwakili tembok-tembok berukuran tebal dan tinggi. Bangunan ini memiliki ukuran luas 20 M x 22 M.
Arsitektur lokal terlihat dari atapnya yang memanjang, yang biasa disebut dengan istilah limasan. Bentuk atap seperti ini banyak ditemukan pada bangunan-bangunan yang ber arsitektur Jawa.
Terdapat dua bangunan tambahan pada bagian depan, yakni bangunan serambi, dan yang kedua menyerupai bentuk seperti koridor dan menyatu dengan bangunan utama.
Bangunan ini didirikan pondasi yang kokoh dan masif, terdapat tiga terap tangga untuk naik ke bangunan ini. Sisi-sisi atap diberi lisplang yang berfungsi sebagai penutup tiris berbentuk mata tombak,. Beberapa tiang ukuran kecil menopang atap bangunan.
Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau kendaraan umum, dengan jarak dari Ibu Kota Provinsi Banten sekitar 51 KM atau hanya sekitar 28 KM dari Ibu Kota Kabupaten Pandeglang.
urang pangdeglang
Selasa, 30 Juni 2015
Senin, 29 Juni 2015
4 Pantai Cantik di Pandeglang ini Ramai Dikunjungi Wisatawan
Alun-alun
Pandeglang Pusat Berkumpulnya Anak Muda
Sesuai tradisi pusat
suatu pemerintahan di Pulau Jawa, tentunya terdapat Alun-alun sebagai pusat
kegiatan atau aktivitas masyarakat. Kabupaten Pandeglang juga memiliki
Alun-alun yang diberi nama Taman Berkah Pandeglang, sesuai dengan motonya yaitu
Pandeglang BERKAH (Bersih, Elok, Ramah, Kuat, Aman dan Hidup). Lokasinya dekat
dengan Gedung DPRD Kabupaten Pandeglang, Kantor Bupati dan juga Gedung Pemuda.
Alun-alun Pandeglang yang
selalu ramai ini terus menerus dipercantik dan dilengkapi berbagai sarana penunjang,
seperti olahraga dan bermain anak. Selain itu, aneka kuliner tersedia untuk
dinikmati para pengunjung. Memang biasanya Alun-alun Pandeglang juga digunakan
sebagai tempat diselenggarakannyaperayaan-perayaan resmi maupun pertunjukan dan hiburan bagi warga sekitar Kabupaten Pandeglang.
Banyak anak mudaPandeglang yang datang ke Alun-alun di pagi dan sore hari, terutama pada hari
libur. Selain untuk jalan-jalan santai dan berolahraga, kalangan anak sekolah
hingga muda-mudi Pandeglang juga melakukan kegiatan positif lain, seperti
berdiskusi bahkan membuat taman belajar.
Komunitas-komunitas pemuda
yang memiliki kesamaan minat atau hobi juga sering berkumpul di Alun-alun
Pandeglang. Antara lain, yaitu komunitas pecinta olahraga, sepeda, hewan
peliharaan, seni dan budaya.
Keberadaan Alun-alun
dapat menjadi ruang positif bagi pemuda Pandeglang untuk bersosialisasi dan
berekspresi. Untungnya Pandeglang berada di kaki Gunung Karang yang
dikenal dengan udara yang sejuk dan asri, sehingga menambah kenyamanan untuk
menghabiskan waktu di Alun-alun Pandeglang.pandeglang
Kamis, 18 Juni 2015
sejarah pandeglang
Nama Pandeglang yang sekarang digunakan ini baik sebagai Ibu Kota
Kabupaten maupun sebagai nama Kabupaten hal ini ada beberapa pendapat
antara lain :
* Pandeglang yang berasal dari kata “Pandai Gelang” yang artinya orang tukang atau tempat menempa gelang. Pendapat ini terutama dikaitkan dengan legenda Si AMUK yang konon kabarnya pada Zaman Kesultanan Banten, di Desa Kadupandak ada seorang tukang Pandai (tukang besi) yang termasyur pandai.

Meriam Ki Amuk (samping)
* Sultan Banten yang memerintah pada waktu itu menyuruh tukang pandai
besa di desa tersebut untuk membuat gelang meriam yang bernama si AMUK,
karena di daerah lain tukang pandai besi tidak ada yang sanggup untuk
membuatnya. Oleh karena pandai besi tersebut berhasil membuatnya maka
daerah Kadupandak dan sekitarnya disebut orang Pandeglang yang
selanjutnya berkembang menjadi salah satu distrik di Kabupaten Serang;

Meriam Ki Amuk (depan)
* Pandeglang berasal dari kata “Paneglaan” yang artinya tempat
melihat ke daerah lain dengan jelas. Hal ini seperti dikemukakan dalam
salah satu Buku “Pandeglang itu asal dari kata Paneglaan, tempat melihat
ke mana-mana”. Sedikit kita nanjak ke pasir, maka terdapat sebuah
kampung namanya “Sanghiyang Herang” patilasan orang dahulu, awas (negla)
melihat kemana-mana yaitu “Pandeglang sekarang”.
* Pandeglang berasal dari kata “Pani-Gelang” yang artinya “tepung gelang”. Pada Tahun 1527 Banten jatuh seluruhnya ke tangan Syarif Hidayatullah yang kemudian diperkuat untuk kepentingan perdagangan.
Sunda Kelapa yang diganti namanya menjadi Jayakarta sebagian dimasukan ke dalam Wilayah Banten. Cirebon kekuasaannya diserahkan kepada anaknya bernama Pangeran Pasarean yang wafat pada tahun 1552. Sedangkan Banten kekuasaannya diserahkan pada puteranya yang bernama Sultan Hasanudin (Tahun 1552-1570).

Pelabuhan Sunda Kelapa
Pada tahun 1568 Banten memutuskan hubungan kerajaan dengan Demak.
Pengganti Hasanudin ialah Maulana Yusuf dari tahun 1570-1580.
Penggantinya Maulana Muhammad (Ratu Banten) sebagai Sultan Banten III
Tahun 1580-1596. Pada Tahun 1596 muncul orang-orang Belanda di Daerah
yang kemudian mendirikan VOC pada tahun 1602.
Tahun 1618 Belanda berselisih dengan Banten 1612 berdiri Batavia oleh Jan Viter Zeun Coen.
Sultan Banten ke IV ialah Sultan Tirtayasa pada tahun 1651-1682. Pada tahun 1680 Sultan Ageng Tirtayasa berselisih dengan Sultan Haji yang minta bantuan pada Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dipenjarakan di Batavia pada tahun 1692. Pada tahun 1750 timbul perebutan kekuasaan pada waktu Sultan Arifin (Sultan ke VI) Alim Ulama pada waktu itu mengangkat Ratu Bagus Buang.
Keadaan ini oleh Belanda dianggap berbahaya, maka diangkatlah Pangeran Gusti sebagai penggantinya. Kenyataannya bukan mereda tetapi Kiyai Tapa dan Ratu Buang mengadakan perlawanan dan pengacauan di Daerah Bogor dan Priangan. Ketika zaman Deandels nasib Banten sama dengan nasib kerajaan lainnya di Pulau Jawa. Tahun 1809 Sultan Banten yang baru yaitu Sultan Muhamad harus menyerahkan Daerah Lampung kepada Batavia.
Oleh karena itu Sultan Muhamad memindahkan Ibu Kota Kesultanan Banten ke Pandeglang.
Menurut Staatsblad Nederlands Indie No. 81 Tahun 1828 Keresidenan Banten di bagi menjadi 3 Kabupaten yaitu :
* Kabupaten Utara yaitu Kabupaten Serang;
* Kabupaten Selatan yaitu Kabupaten Lebak;
* Kabupaten Barat yaitu Kabupaten Caringin.
* Kabupaten Serang dibagi atas 11 Kewedanaan :
1. Kewedanaan Serang dibagi dalam Kecamatan Kalodian dan Cibening;
2. Kewedanaan Banten dibagi dalam Kecamatan Banten, Serang, Nejawang;
3. Kewedanaan Ciruas dibagi dalam Kecamatan Cilegon, Bojonegoro;
4. Kewedanaan Cilegon dibagi dalam Kecamatan Terate, Cilegon, Bojonegoro;
5. Kewedanaan Tanara dibagi dalam Kecamatan Tanara dan Pontang;
6. Kewedanaan Baros dibagi dalam Kecamatan Regas, Ander, Cicandi;
7. Kewedanaan Kolelet dibagi dalam Kecamatan Pandeglang dan Cadasari;
8. Kewedanaan Pandeglang dibagi dalam Kecamatan Pandeglang dan Cadasari;
9. Kewedanaan Ciomas dibagi dalam Kecamatan Ciomas Barat dan Ciomas Utara;
10. Kewedanaan Anyer tidak dibagi dalam Kecamatan-kecamatan;
Selanjutnya memperhatikan SK Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 24 Nopember 1887 Np. 1/c tentang Batas Kota Serang dan Bagian Kota Pandeglang, Caringin dan Lebak Pasal 29, 31, 33, 67c dan 131 Reglement (STBL Van Nederlanch India Tahun 1925 No. 380 LN. 1924 No. 74 Pasal 1) maka ditunjuk Kewedanaan Pandeglang, Menes, Caringin dan Cibaliung.
Kemudian berdasarkan Surat Menteri Jajahan tanggal 13 dan 20 Nopember 1873 No. LAA.AZ.No. 34/209 dan 28/2165 menetapkan bahwa :
Jabatan Kliwon pada Bupati dan Patih dari Afdeling Anyer dan Serang dan Keresidenan Banten dihapuskan; Bupati mempunyai pembantu yaitu Mantri Kabupaten dengan gaji 50 gulden; Kepala Distrik mempunyai gelar Jabatan Wedana dan Onder Distrik mempunyai Gelar Jabatan Asisten Wedana;
Berdasarkan Staatsblad 1874 No. 73 Ordonansi tanggal 1 Maret 1874, mulai berlaku 1 April 1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya
Kabupaten Pandeglang dibagi 9 Distrik atau Kewedanaan sebagai berikut :
1. Kewedanaan Pandeglang;
2. Kewedanaan Baros;
3. Kewedanaan Ciomas;
4. Kewedanaan Kolelet;
5. Kewedanaan Cimanuk;
6. Kewedanaan Caringin;
7. Kewedanaan Panimbang;
8. Kewedanaan Menes;
9. Kewedanaan Cibaliung.
Kesimpulan
• Di Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874 telah ada Pemerintahan. Lebih jelas lagi dalam Ordonansi 1887 No. 224 tentang batas-batas wilayah Keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupaten Pandeglang. Dalam tahun 1925 dengan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1925 No. IX maka jelas Kabupaten telah berdiri sendiri tidak dibawah penguasaan Keresidenan Banten.
• Atas dasar dan fakta-fakta tersebut dapat diambil beberapa alternatif :
1. Pada tahun 1828 : Pandeglang sudah merupakan Pusat Pemerintahan Distrik;
2. Pada tahun 1874 : Pandeglang merupakan Kabupaten;
3. Pada tahun 1882 : Pandeglang merupakan Kabupaten dan Distrik Kewedanaan;
4. Pada tahun 1925 : Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri.
Dari keempat kesimpulan itu atas kesepakatan bersama kita telah menentukan 1 April 1874 sebagai Hari Jadi Kota Kabupaten Pandeglang.
* Pandeglang yang berasal dari kata “Pandai Gelang” yang artinya orang tukang atau tempat menempa gelang. Pendapat ini terutama dikaitkan dengan legenda Si AMUK yang konon kabarnya pada Zaman Kesultanan Banten, di Desa Kadupandak ada seorang tukang Pandai (tukang besi) yang termasyur pandai.

Meriam Ki Amuk (samping)

Meriam Ki Amuk (depan)
* Pandeglang berasal dari kata “Pani-Gelang” yang artinya “tepung gelang”. Pada Tahun 1527 Banten jatuh seluruhnya ke tangan Syarif Hidayatullah yang kemudian diperkuat untuk kepentingan perdagangan.
Sunda Kelapa yang diganti namanya menjadi Jayakarta sebagian dimasukan ke dalam Wilayah Banten. Cirebon kekuasaannya diserahkan kepada anaknya bernama Pangeran Pasarean yang wafat pada tahun 1552. Sedangkan Banten kekuasaannya diserahkan pada puteranya yang bernama Sultan Hasanudin (Tahun 1552-1570).

Pelabuhan Sunda Kelapa
Tahun 1618 Belanda berselisih dengan Banten 1612 berdiri Batavia oleh Jan Viter Zeun Coen.
Sultan Banten ke IV ialah Sultan Tirtayasa pada tahun 1651-1682. Pada tahun 1680 Sultan Ageng Tirtayasa berselisih dengan Sultan Haji yang minta bantuan pada Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap dan dipenjarakan di Batavia pada tahun 1692. Pada tahun 1750 timbul perebutan kekuasaan pada waktu Sultan Arifin (Sultan ke VI) Alim Ulama pada waktu itu mengangkat Ratu Bagus Buang.
Keadaan ini oleh Belanda dianggap berbahaya, maka diangkatlah Pangeran Gusti sebagai penggantinya. Kenyataannya bukan mereda tetapi Kiyai Tapa dan Ratu Buang mengadakan perlawanan dan pengacauan di Daerah Bogor dan Priangan. Ketika zaman Deandels nasib Banten sama dengan nasib kerajaan lainnya di Pulau Jawa. Tahun 1809 Sultan Banten yang baru yaitu Sultan Muhamad harus menyerahkan Daerah Lampung kepada Batavia.
Oleh karena itu Sultan Muhamad memindahkan Ibu Kota Kesultanan Banten ke Pandeglang.
Menurut Staatsblad Nederlands Indie No. 81 Tahun 1828 Keresidenan Banten di bagi menjadi 3 Kabupaten yaitu :
* Kabupaten Utara yaitu Kabupaten Serang;
* Kabupaten Selatan yaitu Kabupaten Lebak;
* Kabupaten Barat yaitu Kabupaten Caringin.
* Kabupaten Serang dibagi atas 11 Kewedanaan :
1. Kewedanaan Serang dibagi dalam Kecamatan Kalodian dan Cibening;
2. Kewedanaan Banten dibagi dalam Kecamatan Banten, Serang, Nejawang;
3. Kewedanaan Ciruas dibagi dalam Kecamatan Cilegon, Bojonegoro;
4. Kewedanaan Cilegon dibagi dalam Kecamatan Terate, Cilegon, Bojonegoro;
5. Kewedanaan Tanara dibagi dalam Kecamatan Tanara dan Pontang;
6. Kewedanaan Baros dibagi dalam Kecamatan Regas, Ander, Cicandi;
7. Kewedanaan Kolelet dibagi dalam Kecamatan Pandeglang dan Cadasari;
8. Kewedanaan Pandeglang dibagi dalam Kecamatan Pandeglang dan Cadasari;
9. Kewedanaan Ciomas dibagi dalam Kecamatan Ciomas Barat dan Ciomas Utara;
10. Kewedanaan Anyer tidak dibagi dalam Kecamatan-kecamatan;
Selanjutnya memperhatikan SK Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 24 Nopember 1887 Np. 1/c tentang Batas Kota Serang dan Bagian Kota Pandeglang, Caringin dan Lebak Pasal 29, 31, 33, 67c dan 131 Reglement (STBL Van Nederlanch India Tahun 1925 No. 380 LN. 1924 No. 74 Pasal 1) maka ditunjuk Kewedanaan Pandeglang, Menes, Caringin dan Cibaliung.

Jabatan Kliwon pada Bupati dan Patih dari Afdeling Anyer dan Serang dan Keresidenan Banten dihapuskan; Bupati mempunyai pembantu yaitu Mantri Kabupaten dengan gaji 50 gulden; Kepala Distrik mempunyai gelar Jabatan Wedana dan Onder Distrik mempunyai Gelar Jabatan Asisten Wedana;
Berdasarkan Staatsblad 1874 No. 73 Ordonansi tanggal 1 Maret 1874, mulai berlaku 1 April 1874 menyebutkan pembagian daerah, diantaranya
Kabupaten Pandeglang dibagi 9 Distrik atau Kewedanaan sebagai berikut :
1. Kewedanaan Pandeglang;
2. Kewedanaan Baros;
3. Kewedanaan Ciomas;
4. Kewedanaan Kolelet;
5. Kewedanaan Cimanuk;
6. Kewedanaan Caringin;
7. Kewedanaan Panimbang;
8. Kewedanaan Menes;
9. Kewedanaan Cibaliung.
Kesimpulan
• Di Pandeglang sejak tanggal 1 April 1874 telah ada Pemerintahan. Lebih jelas lagi dalam Ordonansi 1887 No. 224 tentang batas-batas wilayah Keresidenan Banten, termasuk batas-batas Kabupaten Pandeglang. Dalam tahun 1925 dengan Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1925 No. IX maka jelas Kabupaten telah berdiri sendiri tidak dibawah penguasaan Keresidenan Banten.
• Atas dasar dan fakta-fakta tersebut dapat diambil beberapa alternatif :
1. Pada tahun 1828 : Pandeglang sudah merupakan Pusat Pemerintahan Distrik;
2. Pada tahun 1874 : Pandeglang merupakan Kabupaten;
3. Pada tahun 1882 : Pandeglang merupakan Kabupaten dan Distrik Kewedanaan;
4. Pada tahun 1925 : Kabupaten Pandeglang telah berdiri sendiri.
Dari keempat kesimpulan itu atas kesepakatan bersama kita telah menentukan 1 April 1874 sebagai Hari Jadi Kota Kabupaten Pandeglang.
Langganan:
Komentar (Atom)